JALAN
Surakarta, 8 Maret 2015
Jalan,
Bagaimanakah makna jalan sesungguhnya. Saat
ini aku duduk terpaku di pinggir jalan dengan sorot sinar lampu kota. Menonton
gemerlap malamnya pusat kota. Tengok ke kanan, tengok ke kiri, tengok ke depan,
tengok ke belakang, begitu berulang kali. Menonton ribuan sepeda motor, mobil,
bus, tak lupa ontel dan becak lalu lalang tanpa henti. Orang-orang di pinggir
jalan ramai berfoto dengan patung-patung yang nampak berkilau itu. Mereka semua
melewati jalan. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang ingin ke mall, ke rumah makan, nongkrong,
ngerjain tugas kelompok mungkin, atau ketemu pacar, dan masih banyak lagi.
Mereka memang berbeda-beda, tapi ada yang sama. “Mereka melewati jalan”. Ada
yang hafal nama jalan, namun tak pernah mengerti tempat yang ia tuju. Ada yang
paham dengan tempat yang ia tuju, tapi tak pernag tahu nama jalan. Atau ada
yang paham keduanya tapi tak pernah memaknainya? . Bahkan atau ada yang tak
paham dengan arah pembicaraan ini? Atau mungkin ingatan tentang jalan hanya
akan muncul saat dibutuhkan saja? Padahal setiap hari ia melewatinya. Ah, sudah
kasihan jalan. Benar-benar tak ada yang mampu memaknai kehadirannya. Aku juga
tak pernah hafal dengan jalan, tapi aku sadar setiap hari pasti ada jalan. YA,
SETIAP HARI PASTI ADA JALAN. SETIAP HARI PASTI ADA JALAN. ADA JALAN.
Sri Utami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan :)